PERFORMA EMPAT VARIETAS BAWANG MERAH PADA DUA PERIODE TANAM

Authors

  • Imas Rita Saadah Pusat Riset Hortikultura dan Perkebunan, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan, Badan Riset dan Inovasi Nasional
  • Nurmalita Waluyo Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian
  • Joko Pinilih Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian
  • Ineu Sulastrini Pusat Riset Hortikultura dan Perkebunan, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
  • Eli Korlina Pusat Riset Hortikultura dan Perkebunan, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
  • Chotimatul Azmi Pusat Riset Hortikultura dan Perkebunan, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

Keywords:

Allium cepa L. aggregatum, Embun bulu, Antraknos

Abstract

Bawang merah (Allium cepa L. var aggregatum) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang banyak dikonsumsi di Indonesia sehingga memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Curah hujan yang tinggi sangat mempengaruhi produksi bawang merah. Selain itu varietas yang berbeda dapat menghasilkan karakter produksi yang berbeda pula. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui performa dari 4 varietas bawang merah pada 2 periode tanam. Penelitian dilaksanakan di Lembang, Jawa Barat (1250 m dpl) menggunakan 4 varietas yakni Violetta 1 Agrihorti, Violetta 2 Agrihorti, Violetta 3 Agrihorti, dan Ambassador 1 Agrihorti pada bulan Februari hingga April (periode tanam 1) dan Mei hingga Juli (periode tanam 2) tahun 2020. Parameter yang diamati adalah karakter pertumbuhan dan hasil bawang merah serta serangan penyakit pada umur tanaman 2 hingga 8 minggu setelah tanam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum karakter pertumbuhan dan hasil tidak berbeda nyata pada 4 varietas di dua periode tanam. Variabel susut bobot berbeda nyata antar varietas pada dua musim tanam. Serangan penyakit tertinggi dan terendah berturut-turut pada semua varietas di kedua musim tanam adalah penyakit embun bulu dan antraknos.

References

Aldila, H. F., Fariyanti, A., dan Tinaprilla, N. (2017). Analisis profitabilitas usahatani bawang merah berdasarkan musim di tiga kabupaten sentra produksi di Indonesia. SEPA J. Sos. Ekon. Pertan. dan Agribisnis 11: 249–60.

Ambarwati, E. dan Yudono, P. (2003). Keragaan stabilitas hasil bawang merah. Ilmu Pertanian 10(2): 1-10.

Dutta, R., K. J., Nadig, S.M., Manjunathagowda, D. C., Gurav, V. S. dan Singh, M. (2022). Antrhracnose of onion (Allium cepa L.): a twister disease. Pathogens 11(884): 1-21.

Kementerian Pertanian. (2016). Outlook Komoditas Pertanian Sub Sektor Hortikultura Bawang Merah. Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian.

Kementerian Pertanian, deskripsi varietas. (2018). http://varitas.net/dbvarietas/ [26 Agustus 2022].

Marpaung, A. E. dan R. Rosliani (2019). Adaptability of growth and yield on 5 varieties of shallot (Allium ascalonicum L.) in wet highland. Journal of Tropical Horticulture 2(1): 1-5.

Mutia, A. K. (2019). Pengaruh kadar air awal pada bawang merah (Allium ascalonicum L.) terhadap susut bobot dna tingkat kekerasan selama penyimpanan pada suhu rendah. Gorontalo Agriculture Technology Journal 2(1): 30-37.

Nikirahayu, M., Syafi’I, M., Agustini, R. Y. dan Soedomo, P. (2021). Keragaan karakter morfologi bawang merah (Allium ascalonicum L.) varietas Katumi dan Violetta 3 Agrihorti di Lembang. Jurnal Agrotek Indonesia 6(2): 55-61.

Pinilih, J. 2016. Perbaikan Teknologi Produksi Bawang Merah untuk Meningkatkan Daya Saing dan Adaptif Musim Hujan. Warta Hasil Pertanian Balai Penelitian Tanaman Sayuran (05).

Rahayu, Y.S. (2017). Pengaruh waktu penanaman terhadap pertumbuhan dan hasil beberapa varietas tanaman bawang merah (Allium ascalonicum L.). Agromix 4(1): 38- 46.

Sasminto, R. A., Tunggul, A., Rahadi W. J. B. (2014). Analisis spasial penentuan iklim menurut klasidikasi Schmidt-Ferguson dan Oldeman di Kabupaten Ponorogo. Jurnal Sumberdaya Alam dan Lingkungan 1(14): 51-56.

Simatupang, S., Sipahutar, T. dan Sutanto, A. N. (2017). Kajian usahatani bawang merah dengan paket teknologi Good Agriculture Practices. J. Pengkaj. dan Pengemb. Teknol. Pertan. 20: 13–24.

Sukasih, E., Permata, A. C., Bintang M. dan Setyadjit. (2019). Kinetics of shallot powder (Allium ascalonicum) quality change during storage and its shelf life. IOP Conf. Series: Earth and Environmental Science 309: 1–8.

Supartha, I. W., Kesumadewi, A. A. I., Susila, I. W., Sarjana, I. D. G. R. dan Suniti, N. W. (2018). Teknologi Pengelolaan Terpadu Hama dan Penyakit Penting Tanaman Bawang Merah di Kabupaten Gianyar. Swasta Nulus, Bali.

Supriyadi, Supyani, Poromanto, S. H. dan Hadiwiyono. (2021). Moler disease and cultivation practiced by shallot farmers in Brebes Central Java. IOP Conf. Series: Earth and Environmental Science 883 : 1-5.

Ujiyani, F., Trisyono, Y. A., Witjaksono dan Suputa. (2019). Population of Spodoptera exigua Hubner during on- and off- season onf shallot in Bantul Regency, Yogyakarta. Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia 23(2): 261-269.

Waryanto, B. (2014). Analisis efisiensi teknis, efisiensi ekonomis dan daya saing pada usahatani bawang merah di Kabupaten Nganjuk-Jawa Timur: Suatu pendekatan ekonometrik. Inform. Pertan. 23: 147–58.

Wandschneider, T., Andri, K. B., Ly, K., Puspadi, K., Gniffke, P., Harper, S. dan Kristedi, T. (2013). Shallot Value Chain Study Executive Summary. Australian Centre for International Agriculture Research, Australia Government.

Downloads

Published

2023-06-20