RESPON BAHAN TANAM YANG BERBEDA PADA CEKAMAN KEKERINGAN TERHADAP BIOMASSABIBIT KELOR (Moringa oleifera LAMK)

Authors

  • Catur Wasonowati Program studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Trunojoyo Madura
  • Endang Sulistyaningsih Departemen Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada
  • Didik Indradewa Departemen Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada
  • Budiastuti Kurniasih Departemen Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada

Keywords:

Stek, biji, Bahan tanam, Kelor, Biomassa

Abstract

Kelor (Moringa oleifera Lamk ) adalah tanaman yang tahan pada kondisi kekeringan, mudah tumbuh dan dapat diperbanyak dengan biji dan stek batang. Produksi biomassa daun tanaman kelor yang tinggi, memerlukan penyiapan bibit yang baik, dengan penanaman menggunakan jarak tanam yang rapat dan frekuensi pemanenan yang lebih sering. Terdapat perbedaan hasil biomassa dari bahan tanaman biji dan stek batang. Penelitian bertujuan untuk mengetahui respon bahan tanam yang berbeda pada cekaman kekeringan terhadap biomassa bibit kelor. Penelitian menggunakan Rancangan Petak Terbagi (Split Plot) dengan 2 faktor, petak utama yaitu selang waktu pemberian air terdiri dari 3 taraf : 2 hari sekali, 4 hari sekali, dan 8 hari sekali, dan anak petak yaitu bahan tanam terdiri dari 2 taraf : bahan tanam dari biji, dan bahan tanam dari stek. Peningkatan selang waktu pemberian air secara umum menyebabkan penurunan bobot segar dan bobot kering daun. Bibit tanaman kelor dari biji mempunyai bobot segar dan bobot kering yang lebih berat dibandingkan stek batang.

References

Krisnadi, D. A.(2014). Kelor super nutrisi. Kelorina.com. Pusat Informasi dan PengembanganTanaman Kelor Indonesia. LSM-MEPELING. Blora. 141p.

Kristina N. N and Syahid, S. F, (2014). Pemanfaatan tanaman kelor (Moringa oleifera) untuk meningkatkan produksi air susu ibu. Warta penelitian dan pengembangan tanamanindustri. Volume 20 no 3. Desember 2014 : 26-29.

Kurniasih. (2014). Khasiat dan manfaat daun kelor untuk penyembuhan berbagai penyakit. Pustaka Baru Press. Yogyakarta. 183p.

Lakitan, B. (1995). Dasar-dasar fisiologi tumbuhan. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta. 178p

Mansfield, T.A. and C.J. Atkinson.(1990). Stomatal Behavior in Water Stressed Plants. Dalam: Alscher dan Cumming (Eds). Stress Response in Plant Adaptation and Acclimation Mechanisms. Wiley Liss Inc., New York.

Palada M.C & L.C. Chang. (2003). Suggested cultural practices for Moringa International Cooperators’ Guide. AVRDC pub # 03-545

Rakhmad, B. (2019). Marongghi dari cabe jamu menjadi tiang penyangga kesejahteraan. Pokja Nurul Jannah. Desa Pakandangan Sangra. Kecamatan Bluto. Kabupaten Sumenep

Sitompul, S. M and B. Guritno. (1995). Analisis Pertumbuhan Tanaman. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. 367 p.

Suprianto, E, (1998). Evaluasi Beberapa Varietas Dan Galur Padi pada Kondisi Kekeringan. Skripsi. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Taiz L. dan Zeiger. (2006). Plant Physiology. The Benyaming / Cumming Publishing Company. Inc New York.

Downloads

Published

2023-06-26