PENGELOMPOKAN KARAKTER MORFOLOGI TANAMAN BUNGA MATAHARI SEBAGAI PENDUGAAN SELEKSI BAHAN BAKU INDUSTRI BIOFARMAKA

Authors

  • Noer Rahmi Ardiarini Ardiarini Departemen Agronomi, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya
  • Annisa Amalia Simatupang Departemen Agronomi, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya
  • Azeri Gautama Arifin Departemen Agronomi, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya

Keywords:

biofarmaka, bunga matahari, clustergram, karakter, morfologi

Abstract

Karakter morfologi tanaman bunga matahari memiliki hubungan dengan biji. Biji bunga mataharimemiliki kandungan asam linoleat, asam oleat, protein dan vitamin E yang tinggi. Bagian tanaman lain, yaitu akar, batang, dan daun mengandung fenolik, flavonoid, dan alkaloid. Oleh karena itu, salah satu manfaat biji bunga matahari adalah digunakan sebagai bahan baku biofarmaka. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan profil pengelompokam karakter morfologi sebagai pendugaan seleksi bahan industri biofarmaka. Bahan yang digunakan berupa benih bunga matahari generasi F1 dan F2 koleksi Laboratorium Pemuliaan Tanaman FPUB. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei sampai September 2022 di Kabupaten Dau, Malang, Jawa Timur. Penelitian dilaksanakan tanpa metode rancangan, namun menggunakan rancangan lapang berdasarkan pengamatan tanaman tunggal. Variabel yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun per tanaman, lebar daun, dan waktu pembungaan. Hasil penelitian dianalisis menggunakan clustergram, didapatkan bahwa tanaman bunga matahari pada generasi F1 danF2 memiliki karakter beragam. Analisis menunjukkan generasi F1 dan F2 terbagi menjadi dua kelompok besar pada dendogram genotipe maupun karakter morfologi. Pengelompokan karakter didasarkan pada kemiripan pola timbal balik karakter dengan genotipe. Pola ini dapat dijadikan pertimbangan dalam efisiensi seleksi. Karakter tinggi tanaman, jumlah daun, lebar daun, dan waktu pembungaan dapat dijadikan sebagai karakter seleksi bahan baku biofarmaka pada tanaman bunga matahari.

References

Ardiarini, N. R., Waluyo, B., & Kuswanto. (2016). Variability and genetic distance of potentialsunflower (Helianthus annuus L.) genotypes from Indonesia for industrial purpose. Transactions of Persatuan Genetik Malaysia, (3), 67–73.

Arianto, N. D. P. (2021). Penampilan 40 individu tanaman bunga matahari (Helianthus annuus L.) generasi F1 dan uji khi-kuadrat untuk karakter fisik biji F2. Skripsi. Fakultas Pertanian,Universitas Brawijaya. Malang.

Arif, M., Damanhuri, & Purnamaningsih, S. L. (2015). Seleksi famili F3 buncis (Phaseolus vulgaris L.) polong kuning dan berdaya hasil tinggi. J. Produksi Tanaman, 3(2), 120–125. Badan Pusat Statistik. 2020. Statistik Perdagangan Luar Negeri Impor 2020 Jilid I. Badan Pusat Statistik Indonesia, Jakarta.

Ebeed, H. T., Hassan, N. M., Keshta, M. M., & Hassanin, O. S. (2019). Comparative analysis of seed yield and biochemical attributes in different sunflower genotypes under different levels of irrigation and salinity. Egyptian Journal of Botany, 59(2), 339–355.

Jameela, H., Sugiharto, A. N., & Soegianto, A. (2014). Keragaman genetik dan heritabilitas karakter komponen hasil pada populasi F2 buncis (Phaseolus vulgaris L.) hasil persilangan varietas introduksi dengan varietas lokal. J. Produksi Tanaman, 2(4), 324– 329.

Kamal, J. (2011). Quantification of alkaloids, phenols and flavonoids in sunflower (Helianthus annuus L.). African Journal of Biotechnology, 10(16), 3149–3151. https://doi.org/10.5897/ajb09.1270.

Kartika, M. M. C., & Ardiarini, N. R. (2019). Korelasi dan sidik lintas pada hasil dan komponen hasil bunga matahari (Helianthus annuus L.). Plantropica Journal of Agricultural Science,4(2), 115–124.

Katja, D. G. (2012). kualitas minyak bunga matahari komersial dan minyak hasil ekstraksi bijibunga matahari (Helianthus annuus L.). J. Ilmiah Sains, 12(1), 59–64

Mathias, J. D., Alzina, A., Grédiac, M., Michaud, P., Roux, P., de Baynast, H., ... Wei, W. (2015). Upcycling sunflower stems as natural fibers for biocomposite applications. BioResources, 10(4), 8076–8088.https://doi.org/10.15376/biores.10.4.8076-8088.

Muthuselvi, R., Praneetha, S., Kennedy, Z. J., & Uma, D. (2019). Assessment of variability in snap melon (Cucumis melo var. Momordica duth.) genotypes. Journal of Pharmacognosyand Phytochemistry, 8(4), 654–657.

Nurcholis, W., Hartanti, H., Suryani, S., & Priosoeryanto, B. P. (2019). Evaluasi karakter agro-morfologi pada 20 genotipe hasil seleksi temu hitam (Curcuma aeruginosa roxb.). Agrosaintek, 3(2), 42–51. https://doi.org/10.33019/agrosainstek.v3i2.58.

Rosdayanti, H., Siregar, J., & Siregar, I. Z. (2019). Karakter penciri morfologi daun meranti (Shorea spp.) pada area budidaya ex-situ KHDTK haurbentes. Media Konservasi, 24(2), 207–215.

Wilkinson, L., & Friendly, M. (2009). History corner the history of the cluster heat map. American Statistician, 63, 179–184. https://doi.org/10.1198/tas.2009.0033.

Yuan, J., Murphy, A., Koeyer, D. de, Lague, M., & Bizimungu, B. (2016). Effectiveness of thefield selection parameters on potato yield in Atlantic Canada. Canadian Journal of Plant Science, 96(4), 701–710. https://doi.org/10.1139/cjps-2015-0267.

Downloads

Published

2023-06-26